MAKALAH
(Identifikasi Masalah Belajar)
Disusun guna memenuhi persyaratan mata kuliah
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR
Dosen Pengampu:
Disusun Oleh :
Sarwo Edi Wibowo (5141211018)
Yuliana Fajar Utami ()
Siti Wajiyatul Jazilah (5151211023)
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
TAHUN 2017
Kata Pengantar
Segala puji hanya milik
Allah. Sholawat dan salam kepada Rasulullah. Berkat limpahan
rahmat-Nya kami dapat menyelasaikan penyusunan makalah yang berjudul “Identifikasi
Masalah Belajar”.
Makalah “Identifikasi
Masalah Belajar” disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas matakuliah DIAGNOSIS
KESULITAN BELAJAR.
Makalah ini menjelaskan
mengenai pengertian dan metode identifikasi masalah belajar.
Makalah ini masih sangat jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi perbaikan makalah ini.
Yogyakarta, Mei
2017
Penyusun
Daftar Isi
Cover.................................................................................................................................................... i
Kata
Pengantar............................................................................................................................ ii
Daftar
Isi......................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang........................................................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah................................................................................................................... 1
3. Tujuan Penulisan..................................................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN
1. Pengertian Kesulitan Belajar............................................................................................ 3
2. Klasifikasi Kesulitan Belajar............................................................................................. 4
3. Identifikasi Kesulitan Belajar........................................................................................... 5
3. Metode-metode Identifikasi Kesulitan
Belajar...................................................... 7
BAB
III PENUTUP
SIMPULAN......................................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka................................................................................................................................. 10
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang Masalah
Sejak
awal masa kanak – kanak, anak sudah diharapkan dengan kemampuan untuk
mempelajari berbagai tingkah laku sebagai bagian dari perkembangan dan
kematangan individu. Menurut desmita (2006) perkembangan fisik pada masa anak –
anak ditangai dengan berkembangnya keterampilan motorik beik kasar maupun
halus.
Belajar
merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia, dengan belajar manusia
melakukan perubahan – perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya
berkembang. Semua aktivitas dan prestasi belajar manusia tidak lain adalah
hasil dari belajar. Belajar bukan sekedar pengalaman. Belajar adalah suatu
proses dan bukan hasil, karena itu belajar berlangsung secara aktif dan
integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai tujuan
(Soemanto, 1998).
Anak
– anak dalam melakukan kegiatan pembelajaran tentunya tidak hanya bersifat
semata, tetapi juga melibatkan kemampuan mental anak. Kemampuan mental atau
kejiwaan sangat diperlukan oleh anak yang akan menunjukan kesiapan anak dalam
belajar. Djamarah (2002), mengungkapkan bahwa perubahan yang terjadi akibat
belajar adalah perubahan yang bersentuhan dengan aspek kejiwaan dan
mempengaruhi tingkah laku.
Aktivitas
belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar,
kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak. Demikian kenyataan yang sering dijumpai
pada setiak anak didik dalam kehiudan sehari-hari dalam kaitannya aktivitas
belajar. Menurut djamarah (2002) bahwa gangguan yang menyebabkan seseorang
mengalami kesulitas belajar dapat berupa sindrom psikologis yang dapat berupa
ketidak mampuan belajar (learning disability). Sindrom berarti gejala yang
muncul sebagai indikator adanya ketidaknormalan psikis yang menimbulan kesulitan
belajar anak.
Kesulitan
belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah, ketidak mampuan
dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang
yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak
selalu disebabkan karena faktor intelligensi. Gangguan belajar dapat meliputi
ketidakmampuan untuk memperoleh, menyimpan atau menggunakan keahlian khusus
atau informasi secara luas, dihasilkan dari kekurangan perhatian, ingatan atau
pertimbangan dan mempengaruhi performa akademik.
Perbedaan
individual anak didik memang merupakan faktor yang akan menentukan proses
belajar. Secara umum apabila seseorang dapat mengikuti pelajaran dengan baik
tanpa adanya gangguan, perbedaan individu tersebut tidak akan nampak secara
signifikan,namun akan muncul masalah apabila kemampuan anak disebabkan oleh
faktor-faktor yang berkaitan dengan ketidakmampuan belajar (learning
disability) karena faktor seindrom psikologis. Menurut djamarah (2002), sindrom
psikologis dapat berupa ketidakmampuan belajar (learning disability) yang
berarti adanya gangguan yang muncul sebagai indikator keabnormalan psikis yang
menimbulkan gangguan belajar pada siswa. Sindrom psikologis dalam gangguan
belajar dapat berupa disleksia yaitu gangguan atau ketidak mampuan belajar
dalam hal membaca, disgrafia yaitu gangguan atau ketidakmampuan belajar dalam
hal menulis, diskalkulia yaitu gangguan atau ketidakmampuan belajar dalam hal
berhitung dan gangguan konsentrasi.
2. Rumusan
Masalah
a.
Apa pengertian kesulitan belajar?
b.
Ada apa sajah dalam kesulitan belajar?
c.
Apa yang dimaksud identifikasi masalah belajar?
d.
Bagaimana metode-metode identifikasi kesulitan
belajar?
3. Tujuan
Penulisan
a.
Pembaca dapat memahami pengertian kesulitan
belajar!
b.
Pembaca memahami kesulitan-kesulitan belajar!
c.
Pembaca memahami identifikasi kesulitan belajar!
d.
Memahami metode-metode identifikasi kesulitan
belajar!
BAB II
PEMBAHASAN
1. Kesulitan
Belajar
Banyak
pengertian yang kemukakan oleh para ahli dalam mendefinisikan belajar. Menurut
whiitaker (dalam djamarah, 2002) mengemukakan bahwa belajar sebagai suatu
proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan. Senadan
dengan pengertian di atas Kingsey (dalam djamarah, 2002) mengemukakan bahwa
belajar adalah proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui
praktik atau latihan. Adapun menurt Djamarah (2002) merangkum dari beberapa pendapat
para ahli bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan
dua unsur, yaitu jiwa dan raga, di mana merupakan serangkaian kegiatan jiwa dan
raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Kesulitan
belajar adalah kondisi diamana anak dengan kemampuan intelegnsi rata-rata atau
di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar
yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi,
berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi
integrasi sensori morotorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan
pandangan clement tersebut maka pengertian kesulitan belaja adalah kondisi ang
merupakan sindrom multifimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan
belajar spesifik (Spesific learning disabilities), hiperaktivitas dan/atau
distraktibilitas dan masalah emosional. Kelompok anak dengan learning
dissability (LD) dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang
menyertainnya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah
gangguan latar belakang, visual motorik, visual perceptual, pendengaran,
intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio emosional, body
image, dan konsep diri.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan
bahwa kesulitan belajar merupakan beragam gangguan dalam menyimak, berbicara,
membaca, menulis dan berhitung karena faktor intenal individu itu sendiri,
yaitu disfungsi minimal otak. Kesulitan belajar bukan disebabkan oleh faktor
eksternal berupa lingkungan sosial, budaya, fasilitas belajar, dan lain-lain.
Tidak seperti cacat fisik, kesulitan belajar tidak terlihat dengan je;as dan
sering disebut “hidden handicap”. Terkadang kesulitan ini tidak disadari oleh
orangtua dan guru, akibatnya anak yang mengalami kesulitan belajar sering
diidentifikasi sebagai anak yang underachiver, pemalas atau aneh. Anak-anak ini
mungkin mengalami perasaan frustasi, marah, depresi, cemas, dan merasa tidak diperlukan
(Harwell, 2001).
Menurut
djamarah (2002), beberapa faktor kesulitan belajar terjadi karna faktor intern
dan eksteren yang mempengaruhi kemampuan belajar anak antara lain : faktor
kognitif yaitu kemampuan atau kapasitas intelektual dari anak, faktor afektif
yaitu bagaimana kondisi emosi dan sikap dari anak, faktor psikomotorik yaitu
kemampuan alat indera dan fisik dalam proses belajar, lingkungan yaitu kondisi
kehidupan dan dorongan dari keluarga dan sekolah dalam proses belajar.
Di
setiap sekolah dalam berbagai jenis dan tingkatan pasti memiliki anak yang
berkesulitan belajar. Setiap kesulitan belajar anak didik yang satu dapat
diatasi, tetapi pada waktu yang lain akan muncul kasus kesulitan belajar yang
lain. Namu terdapat pendapat yang keliru mengatakan bahwa kesulitan anak didik
disebabkan oleh rendahnya kemampuan intelegensi, karena dalam kenyataanya
banyak anak didik yang mempunyai intelegnsi yang tinggi namun hasil belajarnya
rendah atau sebaliknya (Djamarah, 2002).
Menurut
Valett (dalam Sukadji, 2000) terdapat tujuh karakteristik yang ditemui pada
anak dengan kesulitan belajar, kesulitan belajar disini diartikan sebagai
hambatan dalam belajar.
a.
Sejarah kegagalan akademik yang berulang kali,
kegagalan dalam mencapai prestasi belajar ini terjadi berulang-ulang hal ini
menjadikan harapan untuk gagal sehingga melemahkan usaha.
b.
Hambatan fisik dan lingkungan berinteraksi
dengan kesulitan belajar, merupakan adanya kelaianan fisik yang mengakibatkan
kesulitan belajar yang jauh di luar jangkauan kesulitan fisik awal.
c.
Kelainan motivasi. Kegagalan berulang, penolokan
guru dan teman-teman sebaya, tidak adanya reinforcement. Hal tersebut cenderung
merendahkan mutu tindakan, minat untuk belajar, dan umunya merendahkan motivasi
atau memindahkan motivasi ke kegiatan yang lain.
d.
Kecemasan yang samar-samar, atau kecamasan yang
mengambang. Hal ini disebabkan oleh kegagalan yang berulang kali yang
mengambangkan harapan akan gagal dalam bidang pengalaman lain, yang menyebabkan
kegelisahan, ketidaknyamanan, penolakan dan mudah menyerah.
e.
Perilaku berubah-ubah tidak konsisten. Rapor
hasil belajar anak dengan kesulitan belajar cenderung tidak konsisten. Tidak
jarang perbedaan angkanya mencolok dibandingkan dengan anak lain. Ini
disebabkan karena naik turunnya minat dan perhatian mereka terhadap pelajaran.
Ketidak stabilan dan perubahan yang tidak dapat diduga ini lebih merupakan
isyarat penting dari rendahnya prestasi itu sendiri.
f.
Penilaian yang keliru karena data tidak lengkap.
Kesulitan belajar dapat timbul karena pemberian label kepada seorang anak
berdasarkan informasi yang tidak lengkap, misalnya tanpa data yang lengkap
seorang anak digolongkan keterbelakangan mental tetapi terlihat perilaku
akademiknya tinggi yang tidak sesuai dengan anak yang keterbelakangan mental.
g.
Pendidikan dan pola asuh yang didapat tidak
memadai. Terdapat anak-anak yang tipe, mutu, penguasaan, dan urutan pengalaman
belajarnya tidak mendukung proses belajar. Kadang-kadang kesalahan tidak
terdapat pada sistem pendidikan itu sendiri, tetapi pada ketidak cocokan
anatara kegiatan kelas dengan kebutuhan anak. Kadang-kadang pengalaman yang
didapat dalam keluarga juga tidak mendukung kegiatan belajar.
Menurut
linda (dalam Santrock, 2007), mendiagnosis ketidakmampuan belajar harus
diberikan jika anak :
a.
Memiliki tingkat IQ yang rendah
b.
Mengalami kesulitan belajar yang signifikan
dalam bidang yang berkaitan dengan sekolah (membaca dan matematika)
c.
Tidak menunjukan gangguan emosional parah
tertentu atau mengalami kesulitan akibat dari gangguan bahasa.
2. Klarifikasi
Kesulitan Belajar
a.
Kesulitan Belajar Perkembangan (Praakademik)
a)
Gangguan perkembangan motorik (gerak)
Gangguan pada kemampuan melakukan gerak dan koordinasi
alat gerak. Bentuk-bentuk gangguan perkembangan motorik meliputi; motorik kasar
(gerakan melimpah, gerakan canggung) motork halus (gerakan jari jemari),
penghayatan tubuh, pemahaman keruangan dan lateralisasi (arah)
b)
Gangguan perkembangan sensorik (Pengindraan)
Gangguan pada kemampuan menangkap rangsangan dari luar
melalui alat-alat indra. Gangguan tersebut mencakup pada proses penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecap.
c)
Gangguan perkembangan perseptual (pemahaman atau
apa yang diinderai)
Gangguan pada kemampuan mengolah dan memahami rangsang
dari proses pengindraan sehingga menjadi informasi yang bermakna. Bentuk-bentuk
gangguan tersebut meliputi: Auditoris, Visual, Visual Motorik.
d)
Gangguan perkembangan prilaku
Gangguan pada kemampuan menata dan mengendalikan diri
yang bersifat internal dari dalam diri anak.
b.
Kesulitan belajar akademik
Kesulitan belajar ini terdeiri atas:
a)
Disleksia atau kesulitan membaca
Disleksia atau kesulitan membaca adalah kesulitan
untuk memaknai simbol, huruf, dan angka melalui persepsi visual dan audiotoris.
b)
Disgrafia atau kesulitan menulis
Disgrafia adalah kesulitan yang melibatkan proses
menggambarkan simbol-simbol, angka dan huruf.
c)
Diskalkulia atau kesulitan berhitung
Kesulitan berhitung adalah kesulitan dalam menggunakan
bahasa simbol untuk berpikir, mencatat dan mengkomunikasikan ide-ide yang
berkaitan dengan kuantitas atau jumlah.
3. Identifikasi
Kesulitan Belajar
Identifikasi
dalam hal ini merupakan proses untuk meneukan den mengenali individu agar diperoleh
informasi tentang jenis-jenis kesulitan belajar yang dialami. Untuk
mengantisipasi kekeliruan dalam klasifikasi dan agar dapat diberikan layanan
pendidikan pada anak berkesulitan belajar melalui indentifikasi akan diperoleh
informasi tentang klasifikasi kesulitan belajar yang dialami anak. Dari
klasifikasi tersebut dapat disusun perencanaan program dan tindakan
pembelajaran yang sesui. Pada umumnya karakteristik peserta didik dapat
dikenali setelah 3 bulan pertama setelah mengikuti pembelajaran di kelas.
Harwell
(2001) mengungkapkan bahwa sebaiknya assesmen dan indentifikasi belajar
dilakukan oleh team yang terdiri dari berbagi disiplin ilmu, yaitu:
a.
Guru Bimbingan dan Konseling
Menggali informasi tentang peserta didik, kondisi
keluarga, sosial, budaya, dan nilai intelegensi dan perilaku melalui alat ukur
atau instrumen yang terstandar da memperoleh gambaran tentang kelebihan,
kekurangan serta permasalahan peserta didik yang sebenarnya.
b.
Psikologi sekolah
Memperoleh informasi tentang kondisi keluarga, sosial,
dan budaya, mengukur intelegnsi dan kepribadian melalui alat ukur yang
terstandar dan memperoleh gambaran tentang kelebihan dan kekurangan.
c.
Guru kelas dan orangtua
Memberikan informasi tentang perkembangan anak,
keterampilan yang telah diperoleh anak, motivasinya, rentang perhatiannya,
penerimaan sosial, dan penyesuaian emosional, yang dapat diperoleh dengan
mengisi raitng scale tentang prilaku anak.
d.
Ahli pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus
Melakukan penilaian akademik dengan menggunakan
berbagai tes individual, mengobservasi siswa dalam situasi belajar dan bermain,
melihat hasil pekerjaan siswa, dan mendiskusikan performas siswa dengan
stackhollder.
e.
Perawat sekolah
Memperoleh data perkembangan kesehatan siswa, perawat
bisa meminta siswa untuk menunjukkan aktivitas motorik sederhana, melakukan tes
pendengaran dan penglihatan siswa, dan jika ada masalah kesehatan, perwat bisa
mendiskusikannya ke dokter.
f.
Adminstrator sekolah
Memfasilitasi pertemuan dengan pihak terkait dan
menyediakan dana dan hal-ahal admintrativ lainnya.
Ada
beberapa aspek penilaian yang harus dilakukan dalam assesment, yaitu:
a.
Intelectual assesment
Penilaian kemampuan intelektual ini meliputi beberapa
hal,yaitu :
a)
IQ yang biasa diukur dengan tes intelegnsi
terstandar
b)
Persepsi visual untuk melihat interpretasi otak
terhadap apa yang dilihatnya, dapat diketahui dengan tes visual motor integration
(VMI) untuk anak usia 3-18 tahun atau the bender visual motor gestalt test
untuk usia 4-11 tahun
c)
Persepsi auditori untuk melihat kemampuan proses
menerima informasi melalui stimulus auditori yang bisa dilakukan melalui
observasi kelas atau tes-tes auditori
d)
Ingatan untuk melihat kemampuan anak dalam
mengingat indormasi yang diterimanya, bisa deketahui melalui subtes digit span
WISC atau tes lainnya.
b.
Academic assesment
Penilaian ini dilakukan untuk menilai kemampuan
membaca atau mengeja, menulis dan berhiutung yang dapat dilihat melalui tes
terstandar, observasi kelas dan saat bermain tau hasil kerjanya sehari-hari.
c.
Language assesment. Penilaian ini dilakukan
untuk mengetahui kemampuan bahasa anak yang meliputi pengetahuian terhadap arti
kata, pengetahuan untuk meletakkan kata dalam kalimat, dam kemampuan
memanipuasi kata sehingga memiliki arti yang bermakna. Penilaian dapat
dilakukan dengan beberapa cara, antaranya adalah sebagai berikut:
a)
Melihat hasil kerja anak dan baiamana ia
merespon huruf, kata dan kaliamat.
b)
Bahsa yang diucapkan, seberapa banyak kosa
katanya, apakah kata yang dipilihnya sesuai atau tidak.
c)
Mendengar, apakah anak dapat mendengar dan
mengikuti pembicaraan.
d)
Observasi percakapannya dengan teman-teman
sebayanya, dengan yang lebih muda, da yang lebih tua. Apakah bisa menyesuikan
bahasa dengan baik.
d.
Health assesment, penilaian ini dilakukan untuk
mengetahui riwayat kesehatan siswa.
e.
Behavior assesment, penilaian perilaku ini
dilakukan untuk melihat dampak perilaku anak terhadap keberhasilannya di
sekolah, dapat dilakukan melalui observasi, wawancara, penggunaan rating scale,
penggunaan inventori kepribadian, dan tes proyektif. Ketika menilai perilaku
sswa ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:
a)
Kemampuan komunikasi siswa
b)
Pengetahuan mereka akan komunitasnya
c)
Kemampuan untuk mengarahkan diri (self
directing)
d)
Kesadaran akan kesehatan dan keselamatan
e)
Kemampuan untuk menajaga diri sendiri dan
penggunaan waktu luang
f)
Perkembangan kemampuan sosial
g)
Kebiasaan kerja dan kesadaran pekerjaanya
Penanganan
yang diberikanpada kasus anak dengan kesulitan belajar tergantung pada hasil
pemeriksaan yang komprehensif dari tim kerja. Penanganan yang diberikan pada
anak dengan kesulitan belajar meliputi:
a. Penanganan
di bidang medis
a)
Terapi obat
Pengobatan yang diberikan adalah sesuai dengan
gangguan fisik atau psikiater yang diderita oleh anak.
b)
Terapi prilaku
Terapi prilaku ini adalah proses terapi prubahan atau
memodifikasi prilaku yang tidak diharapkan menjadi lebih baik dan sesuai dengan
yang diharapkan.
c)
Psikoterapi suportif
Dapat diberikan pada anak dan keluarganya berupa
pengertian dan pemahaman mengenai kesulitan yang ada yang bertujuan untuk
memotivasi dalam usaha untuk memerangi kesulitan.
d)
Pendekatan psikososial
Psikoedukasi orang tua dan guru serta pelatihan
keteramplan sosial bagi anak.
b. Penanganan
di bidang pendidikan
Dalam hal ini
terapi yang paling efektif adalah remedial yaitu bimbingan langsung oleh guru
yang terlatih dalam mengatasi kesulitan belajar anak. Guru remidial ini akan
menyusun suatu metode pengajaran yang sesuai bagi setiap anak. Mereka juga
melatih anak untuk dapat belajar baik dengan teknik-teknik pembelajaran
tertentu (sesuai dengan jenis kesulitan belajar yang dihadapi anak) yang sangat
bermanfaat bagi anak dengan kesulitan belajar.
4. Metode
Identifikasi masalah
Prosedur
identifikasi masalah dapat dilaksanakan dengan melihat gejala-gejala yang
tampak, guru (pembimbing) bisa menginterprestasi bahwa ia kemungkinanmengalami
kesulitan belajar. Damping melihat gejala-gejala yang tampak,guru dapat
melakukan penyelidikan sbb:
a. Observasi
merupakan metode need assesment untuk menggali suatu data dengan mengamati
obyek secara langsung. Observasi mencatat gejala-gejala yang tampak pada diri
subyek, kemudian diseleksi untuk dipilih yang sesuai dengan tujuan pendidikan,
data-data yang dampat diperoleh dari observasi semisal:
a)
Sikap siswa dalam mengikuti pelajaran
b)
Kedisiplinan dan kerapian
c)
Kelengkapan catatan dan peralatan dalam proses
belajar.
b. Interview
merupakan cara mendapatkan data dengan teknik wawancara langsung terhadap
subyek atau orang lain yang dapat membantu kebutuhan permasalahan siswa, untuk
meyelidiki murid yang mengalami kesulitan belajar interview bisa dilakukan
secara langsung atau tidak langsung
c. Tes
diagnostik adalah suatu cara mengumpulkan data dengan tes. Menurut cronbach tes
adalah suatu prosedur yang sistematis untuk membandingkan kelakukan dua orang
atau lebih. Untuk mengetahui murid yang mengalami kesulitan belajar meliputi,
tes buat guru (teacher made test) dan tes-tes psikologi.
d. Dokumentasi
adalah cara mengetahui data informasi dengan melihat catatan-catatan
arsip-arsip, dokumen-dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki. Untuk
mengetahui informasi peserta didik yang mengalami masalah belajar dapat melihat
dokumen sbb:
a)
Riwayat hidup
b)
Presency
c)
Catatan harian
d)
Catatan kesehatan
e)
Nilai ulangan
f)
Raport dan lain-lain
SIMPULAN
Kesulitan
belajar adalah kondisi diamana anak dengan kemampuan intelegnsi rata-rata atau
di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar
yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi,
berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi
integrasi sensori morotorik (Clement, dalam Weiner, 2003).
Kesulitan
belajar diklasifikasikan menjadi 2 kategori, yaitu pra akademik dan akademik,
dimana kedua kategori tersebut permasalahannya dapat berkaitan secara langsung.
Kesulitan belajar merupakan tugas
semua staff dan tenaga pengajar yang ada disekolahan tersebut, bahkan sudah
tidak mungkin bahwa pihak sekolah juga dapat memanfaatkan pihak luar yang lebih
profesional dibidang permasalahan yang dialami peserta didik.
Daftar pustaka
Abdurrahman,
M. 2003. Pendidikan Anak Berkeslutian
Belajar, Jakarta: Depdikbud RI
Devraj,
S, Roslan, S. (2006). Apa itu disleksia, panduan untuk ibu bapa, guru,
konselor, dalam S. Amirin (penyunting). PTS Profesional, Kuala Lumpur.
Prayitno.
1995/1995. Materi Layanan Pembelajaran. Bahan
Pelatihan Bimbingan dan Konseling (“ Dari Pola Tidak Jelas Ke Pola Tujuh Belas”).
Depdikbud jakarta.
Sugiyanto,
M.Pd. Ebooke Diagnosis Kesulitan Belajar.
Program Studi Bimbingan dan Konseling. UNY.