Minggu, 14 Mei 2017

Identifikasi Masalah Belajar Peserta Didik.

MAKALAH
(Identifikasi Masalah Belajar)
Disusun guna memenuhi persyaratan mata kuliah
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

Dosen Pengampu:



Disusun Oleh :
Sarwo Edi Wibowo (5141211018)
Yuliana Fajar Utami ()
Siti Wajiyatul Jazilah (5151211023)
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
TAHUN 2017


Kata Pengantar
Segala puji hanya milik Allah. Sholawat dan salam kepada Rasulullah. Berkat limpahan  rahmat-Nya  kami dapat menyelasaikan penyusunan makalah yang berjudul “Identifikasi Masalah Belajar”.
Makalah “Identifikasi Masalah Belajar” disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas matakuliah DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR.
Makalah ini menjelaskan mengenai pengertian dan metode identifikasi masalah belajar.
 Makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini.




Yogyakarta, Mei 2017

            Penyusun


Daftar Isi
Cover.................................................................................................................................................... i
Kata Pengantar............................................................................................................................ ii
Daftar Isi......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang........................................................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah................................................................................................................... 1
3. Tujuan Penulisan..................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian Kesulitan Belajar............................................................................................ 3
2. Klasifikasi Kesulitan Belajar............................................................................................. 4
3. Identifikasi Kesulitan Belajar........................................................................................... 5
3. Metode-metode Identifikasi Kesulitan Belajar...................................................... 7
BAB III PENUTUP
SIMPULAN......................................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka................................................................................................................................. 10

BAB I
PENDAHULUAN
1.       Latar Belakang Masalah
                Sejak awal masa kanak – kanak, anak sudah diharapkan dengan kemampuan untuk mempelajari berbagai tingkah laku sebagai bagian dari perkembangan dan kematangan individu. Menurut desmita (2006) perkembangan fisik pada masa anak – anak ditangai dengan berkembangnya keterampilan motorik beik kasar maupun halus.
                Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia, dengan belajar manusia melakukan perubahan – perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi belajar manusia tidak lain adalah hasil dari belajar. Belajar bukan sekedar pengalaman. Belajar adalah suatu proses dan bukan hasil, karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai tujuan (Soemanto, 1998).
                Anak – anak dalam melakukan kegiatan pembelajaran tentunya tidak hanya bersifat semata, tetapi juga melibatkan kemampuan mental anak. Kemampuan mental atau kejiwaan sangat diperlukan oleh anak yang akan menunjukan kesiapan anak dalam belajar. Djamarah (2002), mengungkapkan bahwa perubahan yang terjadi akibat belajar adalah perubahan yang bersentuhan dengan aspek kejiwaan dan mempengaruhi tingkah laku.
                Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak. Demikian kenyataan yang sering dijumpai pada setiak anak didik dalam kehiudan sehari-hari dalam kaitannya aktivitas belajar. Menurut djamarah (2002) bahwa gangguan yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitas belajar dapat berupa sindrom psikologis yang dapat berupa ketidak mampuan belajar (learning disability). Sindrom berarti gejala yang muncul sebagai indikator adanya ketidaknormalan psikis yang menimbulan kesulitan belajar anak.
                Kesulitan belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah, ketidak mampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelligensi. Gangguan belajar dapat meliputi ketidakmampuan untuk memperoleh, menyimpan atau menggunakan keahlian khusus atau informasi secara luas, dihasilkan dari kekurangan perhatian, ingatan atau pertimbangan dan mempengaruhi performa akademik.
                Perbedaan individual anak didik memang merupakan faktor yang akan menentukan proses belajar. Secara umum apabila seseorang dapat mengikuti pelajaran dengan baik tanpa adanya gangguan, perbedaan individu tersebut tidak akan nampak secara signifikan,namun akan muncul masalah apabila kemampuan anak disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan ketidakmampuan belajar (learning disability) karena faktor seindrom psikologis. Menurut djamarah (2002), sindrom psikologis dapat berupa ketidakmampuan belajar (learning disability) yang berarti adanya gangguan yang muncul sebagai indikator keabnormalan psikis yang menimbulkan gangguan belajar pada siswa. Sindrom psikologis dalam gangguan belajar dapat berupa disleksia yaitu gangguan atau ketidak mampuan belajar dalam hal membaca, disgrafia yaitu gangguan atau ketidakmampuan belajar dalam hal menulis, diskalkulia yaitu gangguan atau ketidakmampuan belajar dalam hal berhitung dan gangguan konsentrasi.

2.       Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian kesulitan belajar?
b.       Ada apa sajah dalam kesulitan belajar?
c.       Apa yang dimaksud identifikasi masalah belajar?
d.       Bagaimana metode-metode identifikasi kesulitan belajar?

3.       Tujuan Penulisan
a.       Pembaca dapat memahami pengertian kesulitan belajar!
b.       Pembaca memahami kesulitan-kesulitan belajar!
c.       Pembaca memahami identifikasi kesulitan belajar!
d.       Memahami metode-metode identifikasi kesulitan belajar!




BAB II
PEMBAHASAN
1.       Kesulitan Belajar
                Banyak pengertian yang kemukakan oleh para ahli dalam mendefinisikan belajar. Menurut whiitaker (dalam djamarah, 2002) mengemukakan bahwa belajar sebagai suatu proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan. Senadan dengan pengertian di atas Kingsey (dalam djamarah, 2002) mengemukakan bahwa belajar adalah proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan. Adapun menurt Djamarah (2002) merangkum dari beberapa pendapat para ahli bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga, di mana merupakan serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
                Kesulitan belajar adalah kondisi diamana anak dengan kemampuan intelegnsi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori morotorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan pandangan clement tersebut maka pengertian kesulitan belaja adalah kondisi ang merupakan sindrom multifimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan belajar spesifik (Spesific learning disabilities), hiperaktivitas dan/atau distraktibilitas dan masalah emosional. Kelompok anak dengan learning dissability (LD) dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainnya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar belakang, visual motorik, visual perceptual, pendengaran, intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio emosional, body image, dan konsep diri.
                Dari  beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar merupakan beragam gangguan dalam menyimak, berbicara, membaca, menulis dan berhitung karena faktor intenal individu itu sendiri, yaitu disfungsi minimal otak. Kesulitan belajar bukan disebabkan oleh faktor eksternal berupa lingkungan sosial, budaya, fasilitas belajar, dan lain-lain. Tidak seperti cacat fisik, kesulitan belajar tidak terlihat dengan je;as dan sering disebut “hidden handicap”. Terkadang kesulitan ini tidak disadari oleh orangtua dan guru, akibatnya anak yang mengalami kesulitan belajar sering diidentifikasi sebagai anak yang underachiver, pemalas atau aneh. Anak-anak ini mungkin mengalami perasaan frustasi, marah, depresi, cemas, dan merasa tidak diperlukan (Harwell, 2001).
                Menurut djamarah (2002), beberapa faktor kesulitan belajar terjadi karna faktor intern dan eksteren yang mempengaruhi kemampuan belajar anak antara lain : faktor kognitif yaitu kemampuan atau kapasitas intelektual dari anak, faktor afektif yaitu bagaimana kondisi emosi dan sikap dari anak, faktor psikomotorik yaitu kemampuan alat indera dan fisik dalam proses belajar, lingkungan yaitu kondisi kehidupan dan dorongan dari keluarga dan sekolah dalam proses belajar.
                Di setiap sekolah dalam berbagai jenis dan tingkatan pasti memiliki anak yang berkesulitan belajar. Setiap kesulitan belajar anak didik yang satu dapat diatasi, tetapi pada waktu yang lain akan muncul kasus kesulitan belajar yang lain. Namu terdapat pendapat yang keliru mengatakan bahwa kesulitan anak didik disebabkan oleh rendahnya kemampuan intelegensi, karena dalam kenyataanya banyak anak didik yang mempunyai intelegnsi yang tinggi namun hasil belajarnya rendah atau sebaliknya (Djamarah, 2002).
                Menurut Valett (dalam Sukadji, 2000) terdapat tujuh karakteristik yang ditemui pada anak dengan kesulitan belajar, kesulitan belajar disini diartikan sebagai hambatan dalam belajar.
a.       Sejarah kegagalan akademik yang berulang kali, kegagalan dalam mencapai prestasi belajar ini terjadi berulang-ulang hal ini menjadikan harapan untuk gagal sehingga melemahkan usaha.
b.       Hambatan fisik dan lingkungan berinteraksi dengan kesulitan belajar, merupakan adanya kelaianan fisik yang mengakibatkan kesulitan belajar yang jauh di luar jangkauan kesulitan fisik awal.
c.       Kelainan motivasi. Kegagalan berulang, penolokan guru dan teman-teman sebaya, tidak adanya reinforcement. Hal tersebut cenderung merendahkan mutu tindakan, minat untuk belajar, dan umunya merendahkan motivasi atau memindahkan motivasi ke kegiatan yang lain.
d.       Kecemasan yang samar-samar, atau kecamasan yang mengambang. Hal ini disebabkan oleh kegagalan yang berulang kali yang mengambangkan harapan akan gagal dalam bidang pengalaman lain, yang menyebabkan kegelisahan, ketidaknyamanan, penolakan dan mudah menyerah.
e.       Perilaku berubah-ubah tidak konsisten. Rapor hasil belajar anak dengan kesulitan belajar cenderung tidak konsisten. Tidak jarang perbedaan angkanya mencolok dibandingkan dengan anak lain. Ini disebabkan karena naik turunnya minat dan perhatian mereka terhadap pelajaran. Ketidak stabilan dan perubahan yang tidak dapat diduga ini lebih merupakan isyarat penting dari rendahnya prestasi itu sendiri.
f.        Penilaian yang keliru karena data tidak lengkap. Kesulitan belajar dapat timbul karena pemberian label kepada seorang anak berdasarkan informasi yang tidak lengkap, misalnya tanpa data yang lengkap seorang anak digolongkan keterbelakangan mental tetapi terlihat perilaku akademiknya tinggi yang tidak sesuai dengan anak yang keterbelakangan mental.
g.       Pendidikan dan pola asuh yang didapat tidak memadai. Terdapat anak-anak yang tipe, mutu, penguasaan, dan urutan pengalaman belajarnya tidak mendukung proses belajar. Kadang-kadang kesalahan tidak terdapat pada sistem pendidikan itu sendiri, tetapi pada ketidak cocokan anatara kegiatan kelas dengan kebutuhan anak. Kadang-kadang pengalaman yang didapat dalam keluarga juga tidak mendukung kegiatan belajar.
                Menurut linda (dalam Santrock, 2007), mendiagnosis ketidakmampuan belajar harus diberikan jika anak :
a.       Memiliki tingkat IQ yang rendah
b.       Mengalami kesulitan belajar yang signifikan dalam bidang yang berkaitan dengan sekolah (membaca dan matematika)
c.       Tidak menunjukan gangguan emosional parah tertentu atau mengalami kesulitan akibat dari gangguan bahasa.

2.       Klarifikasi Kesulitan Belajar
a.       Kesulitan Belajar Perkembangan (Praakademik)
a)       Gangguan perkembangan motorik (gerak)
Gangguan pada kemampuan melakukan gerak dan koordinasi alat gerak. Bentuk-bentuk gangguan perkembangan motorik meliputi; motorik kasar (gerakan melimpah, gerakan canggung) motork halus (gerakan jari jemari), penghayatan tubuh, pemahaman keruangan dan lateralisasi (arah)
b)      Gangguan perkembangan sensorik (Pengindraan)
Gangguan pada kemampuan menangkap rangsangan dari luar melalui alat-alat indra. Gangguan tersebut mencakup pada proses penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecap.
c)       Gangguan perkembangan perseptual (pemahaman atau apa yang diinderai)
Gangguan pada kemampuan mengolah dan memahami rangsang dari proses pengindraan sehingga menjadi informasi yang bermakna. Bentuk-bentuk gangguan tersebut meliputi: Auditoris, Visual, Visual Motorik.
d)      Gangguan perkembangan prilaku
Gangguan pada kemampuan menata dan mengendalikan diri yang bersifat internal dari dalam diri anak.
b.       Kesulitan belajar akademik
Kesulitan belajar ini terdeiri atas:
a)       Disleksia atau kesulitan membaca
Disleksia atau kesulitan membaca adalah kesulitan untuk memaknai simbol, huruf, dan angka melalui persepsi visual dan audiotoris.
b)      Disgrafia atau kesulitan menulis
Disgrafia adalah kesulitan yang melibatkan proses menggambarkan simbol-simbol, angka dan huruf.
c)       Diskalkulia atau kesulitan berhitung
Kesulitan berhitung adalah kesulitan dalam menggunakan bahasa simbol untuk berpikir, mencatat dan mengkomunikasikan ide-ide yang berkaitan dengan kuantitas atau jumlah.

3.       Identifikasi Kesulitan Belajar
                Identifikasi dalam hal ini merupakan proses untuk meneukan den mengenali individu agar diperoleh informasi tentang jenis-jenis kesulitan belajar yang dialami. Untuk mengantisipasi kekeliruan dalam klasifikasi dan agar dapat diberikan layanan pendidikan pada anak berkesulitan belajar melalui indentifikasi akan diperoleh informasi tentang klasifikasi kesulitan belajar yang dialami anak. Dari klasifikasi tersebut dapat disusun perencanaan program dan tindakan pembelajaran yang sesui. Pada umumnya karakteristik peserta didik dapat dikenali setelah 3 bulan pertama setelah mengikuti pembelajaran di kelas.
                Harwell (2001) mengungkapkan bahwa sebaiknya assesmen dan indentifikasi belajar dilakukan oleh team yang terdiri dari berbagi disiplin ilmu, yaitu:
a.       Guru Bimbingan dan Konseling
Menggali informasi tentang peserta didik, kondisi keluarga, sosial, budaya, dan nilai intelegensi dan perilaku melalui alat ukur atau instrumen yang terstandar da memperoleh gambaran tentang kelebihan, kekurangan serta permasalahan peserta didik yang sebenarnya.
b.       Psikologi sekolah
Memperoleh informasi tentang kondisi keluarga, sosial, dan budaya, mengukur intelegnsi dan kepribadian melalui alat ukur yang terstandar dan memperoleh gambaran tentang kelebihan dan kekurangan.
c.       Guru kelas dan orangtua
Memberikan informasi tentang perkembangan anak, keterampilan yang telah diperoleh anak, motivasinya, rentang perhatiannya, penerimaan sosial, dan penyesuaian emosional, yang dapat diperoleh dengan mengisi raitng scale tentang prilaku anak.
d.       Ahli pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus
Melakukan penilaian akademik dengan menggunakan berbagai tes individual, mengobservasi siswa dalam situasi belajar dan bermain, melihat hasil pekerjaan siswa, dan mendiskusikan performas siswa dengan stackhollder.
e.       Perawat sekolah
Memperoleh data perkembangan kesehatan siswa, perawat bisa meminta siswa untuk menunjukkan aktivitas motorik sederhana, melakukan tes pendengaran dan penglihatan siswa, dan jika ada masalah kesehatan, perwat bisa mendiskusikannya ke dokter.
f.        Adminstrator sekolah
Memfasilitasi pertemuan dengan pihak terkait dan menyediakan dana dan hal-ahal admintrativ lainnya.
                Ada beberapa aspek penilaian yang harus dilakukan dalam assesment, yaitu:
a.       Intelectual assesment
Penilaian kemampuan intelektual ini meliputi beberapa hal,yaitu :
a)       IQ yang biasa diukur dengan tes intelegnsi terstandar
b)      Persepsi visual untuk melihat interpretasi otak terhadap apa yang dilihatnya, dapat diketahui dengan tes visual motor integration (VMI) untuk anak usia 3-18 tahun atau the bender visual motor gestalt test untuk usia 4-11 tahun
c)       Persepsi auditori untuk melihat kemampuan proses menerima informasi melalui stimulus auditori yang bisa dilakukan melalui observasi kelas atau tes-tes auditori
d)      Ingatan untuk melihat kemampuan anak dalam mengingat indormasi yang diterimanya, bisa deketahui melalui subtes digit span WISC atau tes lainnya.
b.       Academic assesment
Penilaian ini dilakukan untuk menilai kemampuan membaca atau mengeja, menulis dan berhiutung yang dapat dilihat melalui tes terstandar, observasi kelas dan saat bermain tau hasil kerjanya sehari-hari.
c.       Language assesment. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan bahasa anak yang meliputi pengetahuian terhadap arti kata, pengetahuan untuk meletakkan kata dalam kalimat, dam kemampuan memanipuasi kata sehingga memiliki arti yang bermakna. Penilaian dapat dilakukan dengan beberapa cara, antaranya adalah sebagai berikut:
a)       Melihat hasil kerja anak dan baiamana ia merespon huruf, kata dan kaliamat.
b)      Bahsa yang diucapkan, seberapa banyak kosa katanya, apakah kata yang dipilihnya sesuai atau tidak.
c)       Mendengar, apakah anak dapat mendengar dan mengikuti pembicaraan.
d)      Observasi percakapannya dengan teman-teman sebayanya, dengan yang lebih muda, da yang lebih tua. Apakah bisa menyesuikan bahasa dengan baik.
d.       Health assesment, penilaian ini dilakukan untuk mengetahui riwayat kesehatan siswa.
e.       Behavior assesment, penilaian perilaku ini dilakukan untuk melihat dampak perilaku anak terhadap keberhasilannya di sekolah, dapat dilakukan melalui observasi, wawancara, penggunaan rating scale, penggunaan inventori kepribadian, dan tes proyektif. Ketika menilai perilaku sswa ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:
a)       Kemampuan komunikasi siswa
b)      Pengetahuan mereka akan komunitasnya
c)       Kemampuan untuk mengarahkan diri (self directing)
d)      Kesadaran akan kesehatan dan keselamatan
e)      Kemampuan untuk menajaga diri sendiri dan penggunaan waktu luang
f)        Perkembangan kemampuan sosial
g)       Kebiasaan kerja dan kesadaran pekerjaanya
                Penanganan yang diberikanpada kasus anak dengan kesulitan belajar tergantung pada hasil pemeriksaan yang komprehensif dari tim kerja. Penanganan yang diberikan pada anak dengan kesulitan belajar meliputi:
a.       Penanganan di bidang medis
a)       Terapi obat
Pengobatan yang diberikan adalah sesuai dengan gangguan fisik atau psikiater yang diderita oleh anak.
b)      Terapi prilaku
Terapi prilaku ini adalah proses terapi prubahan atau memodifikasi prilaku yang tidak diharapkan menjadi lebih baik dan sesuai dengan yang diharapkan.
c)       Psikoterapi suportif
Dapat diberikan pada anak dan keluarganya berupa pengertian dan pemahaman mengenai kesulitan yang ada yang bertujuan untuk memotivasi dalam usaha untuk memerangi kesulitan.
d)      Pendekatan psikososial
Psikoedukasi orang tua dan guru serta pelatihan keteramplan sosial bagi anak.
b.       Penanganan di bidang pendidikan
Dalam hal ini terapi yang paling efektif adalah remedial yaitu bimbingan langsung oleh guru yang terlatih dalam mengatasi kesulitan belajar anak. Guru remidial ini akan menyusun suatu metode pengajaran yang sesuai bagi setiap anak. Mereka juga melatih anak untuk dapat belajar baik dengan teknik-teknik pembelajaran tertentu (sesuai dengan jenis kesulitan belajar yang dihadapi anak) yang sangat bermanfaat bagi anak dengan kesulitan belajar.

4.       Metode Identifikasi masalah
                Prosedur identifikasi masalah dapat dilaksanakan dengan melihat gejala-gejala yang tampak, guru (pembimbing) bisa menginterprestasi bahwa ia kemungkinanmengalami kesulitan belajar. Damping melihat gejala-gejala yang tampak,guru dapat melakukan penyelidikan sbb:
a.       Observasi merupakan metode need assesment untuk menggali suatu data dengan mengamati obyek secara langsung. Observasi mencatat gejala-gejala yang tampak pada diri subyek, kemudian diseleksi untuk dipilih yang sesuai dengan tujuan pendidikan, data-data yang dampat diperoleh dari observasi semisal:
a)       Sikap siswa dalam mengikuti pelajaran
b)      Kedisiplinan dan kerapian
c)       Kelengkapan catatan dan peralatan dalam proses belajar.
b.       Interview merupakan cara mendapatkan data dengan teknik wawancara langsung terhadap subyek atau orang lain yang dapat membantu kebutuhan permasalahan siswa, untuk meyelidiki murid yang mengalami kesulitan belajar interview bisa dilakukan secara langsung atau tidak langsung
c.       Tes diagnostik adalah suatu cara mengumpulkan data dengan tes. Menurut cronbach tes adalah suatu prosedur yang sistematis untuk membandingkan kelakukan dua orang atau lebih. Untuk mengetahui murid yang mengalami kesulitan belajar meliputi, tes buat guru (teacher made test) dan tes-tes psikologi.
d.       Dokumentasi adalah cara mengetahui data informasi dengan melihat catatan-catatan arsip-arsip, dokumen-dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki. Untuk mengetahui informasi peserta didik yang mengalami masalah belajar dapat melihat dokumen sbb:
a)       Riwayat hidup
b)      Presency
c)       Catatan harian
d)      Catatan kesehatan
e)      Nilai ulangan
f)        Raport dan lain-lain



SIMPULAN

        Kesulitan belajar adalah kondisi diamana anak dengan kemampuan intelegnsi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori morotorik (Clement, dalam Weiner, 2003).
        Kesulitan belajar diklasifikasikan menjadi 2 kategori, yaitu pra akademik dan akademik, dimana kedua kategori tersebut permasalahannya dapat berkaitan secara langsung.
        Kesulitan belajar merupakan tugas semua staff dan tenaga pengajar yang ada disekolahan tersebut, bahkan sudah tidak mungkin bahwa pihak sekolah juga dapat memanfaatkan pihak luar yang lebih profesional dibidang permasalahan yang dialami peserta didik.



Daftar pustaka

        Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan Anak Berkeslutian Belajar, Jakarta: Depdikbud RI
       
        Devraj, S, Roslan, S. (2006). Apa itu disleksia, panduan untuk ibu bapa, guru, konselor, dalam S. Amirin (penyunting). PTS Profesional, Kuala Lumpur.

        Prayitno. 1995/1995. Materi Layanan Pembelajaran. Bahan Pelatihan Bimbingan dan Konseling (“ Dari Pola Tidak Jelas Ke Pola Tujuh Belas”). Depdikbud jakarta.

        Sugiyanto, M.Pd. Ebooke Diagnosis Kesulitan Belajar. Program Studi Bimbingan dan Konseling. UNY.