BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fungsi
utama instrumen asesmen adalah untuk mengumpulkan data, dalam berbagai
keperluan ilmiah data merupakan bentuk jamak dari datun, yang mempunyai arti
sebagai sejumlah keterangan atau informasi tentang sesuatu benda atau nonbenda.
Informasi atau keterangan tersebut dapat berupa besaran, ukurang, angka, atau
dapat pula berupa penjelasan deskriptif, uraian atau kualifikasi tentang
sesutau. Jadi data merupakan “potret” atau gambaran lengkap tentang sesuatu.
Misalnya data intelegensi dapat di maknai sebagai ukuran, angka, deskripsi,
atau kualifikasi tentang intelegensi seseorang. Demikian pula pengertian data
pribadi berarti kempulan tentang angka–angka, ukuran, besaran, deskripsi dan
atau kualifikasi tentang pribadi seseorang.
Pemberian
data akan efektif jika didasarkan pada data yang akurat. Bride, dkk. (1989)
menyatakan bahwa jika konselor ingin melakukan kegiatan bimbingan secara
efektif atau melakukan apa saja dengan siswa (klien), maka dia harus mengetahui
segala sesuatu yang ada pada siswa (klien) nya tersebut. Lebih banyak informasi
yang di ketahui tentang klien, maka dia akan dapat bekerja dengan lebih baik
dengan kliennya.
Data
yang akurat tersebut hanya akan didapat jika dikumpulkan dengan menggunakan
alat instrumen yang tepat pula. Kadang-kadang guru Bimbingan dan Konseling
punya data yang banyak tentang seseorang, tetapi data tersebut dirasa tidak
cukup, karna tidak sesuai dengan kebutuhan pemecahan masalahnya. Pada kondisi
demikian, maka kedudukan instrumen menjadi sangat penting. Di sinilah fungsi
pemahaman dari bimbingan perilaku.
Kedudukan
data dalam bimbingan sanat sentral. Untuk itu guru Bimbingan dan Konseling
perlu memahami betul data apa yang diperlukan untuk memecahkan sesuatu masalah
atau melakukan suatu kegiatan bimbingan. Yang lebih penting lagi adalah
bagaimana data tersebut dapat dikumpulkan. Uraian berikut berupaya membantu
guru Bimbingan dan Konseling untuk memahami kedua hal tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja ragam pendekatan dan teknik asesmen
2. Apa Karakteristik mutu instrumen
3. Apa kontuksi instrumen
4. Bagaimana cara menafsirkan instrumen
5. Bagaimana cara memanfaatkan hasil asesmen dalam
Bimbingan dan konseling
6. Bagaimana cara melaksanakan etika asesmen
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan ragam pendekatan dan teknik asesmen
2. Menjelaskan karakteristik mutu instrumen
3. Menjelaskan kontuksi instrumen
4. Menjelaskan bagaimana cara menafsirkan instrumen
5. Menjelaskan bagaimana cara memanfaatkan hasil asesmen
dalam bimbingan dan konseling
6. Menjelaskan bagaimana cara menlaksanakan etika
asesmen
1.4 Manfaat
Dengan
dibuatnya makalah ini semoga dapat memberikan pemahaman tentang pengembangan
instrumen Bimbingan dan Konseling Pribadi, dan menambah wawasan dan pengetahuan
dimasa mendatang.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Ragam Pendekatan dan Teknik Asesmen
Dalam bimbingan konseling fungsi utama asesmen
terkait dengan fungsi pemahaman individu (siswa). Instrumen asesmen digunakan
untuk mengumpulkan berbagai informasi (data) tentang siswa.
Data tentang siswa dapat di bedakan menjadi data
psikologis dan data non psikologis. Data psikologis adalah data yang terkait
dengan aspek-aspek psikologis dari siswa ; seperti data tentang intelegensi
(kecerdasan), data-data tentang aspek kepribadian. Sedangkan data
Non-psikologis adalah data yang terkait prestasi yang diperoleh, data tentang
diri (data pribadi) dan data tentang lingkungan.
Untuk
mengungkapkan atau mengumpulkan kedua jenis data tersebut dapat dilakukan dengan
2 pendekatan besar, yaitu pendekatan tes dan pendekatan non tes.
Tes
merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, atau pertanyaan-pertanyaan
yang harus di pilih. Dalam setiap pertanyaan, pernyataan, atau tugas yang
diberikan terdapat jawaban atau alternatif yang di anggap benar. Dengan
demikian, maka setiap tes akan menuntut respon atau jawaban yang dites yang
dapat disimpulkan sebagai alat trait dari subjek yang sedang di cari
informasinya. Dari uraian ini tersirat bahwa tes berfungsi sebagai alat
(instrumens) ataupun sebagai cara pengungkapan informasi datau pengumpulan data
tentang siswa.
Selain
dengan cara tes, alat atau pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara non-tes
yang di lakukan dengan bentuk wawancara, observasi, angket dan sejenisnya.
Perbedaan utama antara tes dan nontes terletak pada 3 hal. Pertama bahwa pada
tes ada jawaban benar salah, sedangkan pada jenis non tes jawaban benar dan
salah sangat kondisional. Kedua, adalah hasil pada nontes lebih besifat
kualitatif, sedangkan tes lebih kuantitatif. Ketiga, pelaksanaan tes adalah
orang yang profesional, sedangkan non tes tidak selamnya orang profesional.
Dilihat
dari bentuknya, secara umum data yang di peroleh dapat di bedakan menjadi 2
jenis data, yaitu
1. Data kuantitatif, data kuantitatif diperoleh dari
hasil pengukuran yang wujudnya berupa angka-angka atau kualifikasi yang di
angkakan
2. Data kualitatif, data kualitatif diperoleh dari
hasil penilaian yang berupa kualifikasi, kata-kata atau kalimat ; seperti
cerdas, baik, buruk, banyak, sedikit, dan seterusnya.
Data
kuantitatif dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok besar, yaitu data diskrit dan
data kontinum. Data diskrit adalah data yang diperolih dari hasil menghitung
atau membilang. Data diskrit sering juga disebut data nominal. Data kontinum
secara hiererki dapat dikelompokan menjadi data ordinal, data interval, dan
data rasio, keempat jenis data ini (nominal, ordinal, interval, dan rasio)
sifatnya berjenjang (berskalah). Data nominal merupakan data yang paling
rendah.
Berikut
ini diuraikan tentang jenis data tersebut
a. Skala Nominal, yaitu skalah yang bersifat
katagorikal. Dengan skala nominal ini kita hanya dapat memahami apakah
seseorang itu berada dalam kategori mana (jenis kelamin; pria atau wanita,
hidhu, budha atau lainnya)
b. Skala Ordinal, yaitu angka yang menunjukan adanya
urutan, tanpa mempersoalkan jarak antarurutan tersebut. Misalnya angka yang
menunjukan urutan rangking atau perangkat mahasiswa dalam suatu mata kuliah
c. Skala Interval, yaitu angka yang selain memiliki dua
ciri di atas (menunjukan klasifikasi dan kedudukan seseorang dalam kelompok)
juga menunjukan adanya jarak yang sama dari angka yang satu ke angka yang lain
(equality of interval) jika berada dalam urutan
d. Skala Rasio, yaitu angka atau data yang selain
memiliki tiga sifat data di atas (menunjukan klasifikasi, kedudukan dalam suatu
kelompok, dan memiliki jarak interval yang sama) juga memiliki nilai 0 (nol)
mutlak
Skala
adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat / perhatian, yang disusun dalam
bentuk peryataan untuk dinilai oleh responden di mana hasilnya berbentuk
rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang digunakan.
Ada
dua jenis skala yang sering digunakan untuk mengakses siswa, yaitu skala sikap
dan skala penilaian.
a. Skala sikap
Skala
sikap pd hakikatnya adalah kecenderungan seseorang berperilaku. Sikap juga
dapat diartikan reaksi seseorang terhadap stimulus yang datang pada dirinya.
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu.
Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung, menolak atau netral
Ada
3 komponen sikap yakni kognisi (berkenaan dengan pengetahuan tentang objek), afeksi
(berkaitan dengan perasaan terhadap objek), dan konasi (berkaitan dengan
kecenderungan berperilaku terhadap objek itu).
b. Skala penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku
siswa melalui peryataan perilaku pada suatu titik kontinum atau suatu kategori
yang bermakna nilai. Titik atau kategori itu diberi rentangan nilai dari yang
tinggi sampai yang rendah. Rentangan ini bisa berupa huruf abjad (A, B, C, D)
atau angka (1, 2, 3, 4). Hal yang harus diperhatikan adalah kriteria skala
nila, yakni penjelasan oprasional untuk setiap alternatif jawaban.
Skala penilaian lebih tepat digunakan untuk mengukur
suatu proses, misalnya proses belajar pada siswa, atau hasil belajar yang
berbentuk prilaku, seperti hubungan sosial di antara siswa atau cara-cara
memecahkan masalah.
2.2
karakteristik mutu instrumen
Dilihat
dari mutunya, instrumen asesmen dapat dibedakan menjadi dua kelompok yang
sering digunakan, yaitu instrumen standar (standardized test, standardized
instrument) dan instrumen tidak standar. Suatu instrumen dikatakan standardized
bila instrumen tersebut telah diuji berbagai aspek kebaikannya, misalnya
releabilitas, validitas, dan daya pembeda dari item-itemnya. Sedangkan
instrumen yang tidak standar (tidak dibakukan) aspek-aspek tersebut tidak
diketahui secara pasti.
Instrumen
yang baku biasanya dilengkapi perangkat instrumen, yang disebut dengan nama
“MANUAL”. Dalam manual biasanya tercantum:
a. penjelasan tentang aspek-aspek yang diungkap
b. kegunaan instrumen
c. cara pengadministrasian (cara pelaksanaan,
pemeriksaan, sampai sekoring)
d. norma yang digunakan
e. penjelasan tingkat instrumen dan cara pembakuannya
Berikut
ini akan diuraikan secara singkat mengenai konsep validitas, releabilitas,
tngkat kesukaran, dan daya pembeda soal.
a. Validasi
Validasi
menunjukan tingkat ketepatan suatu alat instrumen (tes maupun non-tes) dalam
mengatur aspek yang hendak diukur, atau mengungkap data yang hendak diungkap.
Setiap alat ukur/instrumen harus hanya mengukur satu dimensi atau aspek saja.
Suatu tes hasil belajar dikatakan valid kalau hanya megungkap hasil belajar
tertentu saja.
b. Reliabilitas
Reliabilitas tes menunjukan tingkat keajegan suatu
tes, yaitu sejauhmana tes tersebut dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang
ajeg/konsisten. Kecermatan hasil pengukuran ditentukan oleh banyaknya informasi
yang dihasilkan dan sangat berkaitan dengan satuan ukuran dan jarak rentang
dari skala yang digunakan.
c. Daya Pembeda
Soal-soal dari suatu tes yang baik akan mampu
membedakan antara testi yang benar-benar mampu dengan testi yang kurang mampu,
antara testi yang benar-benar belajar dengan testi yang tidak belajar. Secara
empirik hal ini akan ditunjukkan dengan adanya oerbedaan skor/hasil yang
diperoleh oleh orang termasuk kelompok unggul dengan sekor yang diperoleh oleh
kelompok asor. Jadi orang-orang dari kelompok unggul akan lebih banyak benar
dibandingkan dengan orang dari kelompok asor.
d. Tingkat Kesukaran
Sial-soal suatu tes yang baik akan memiliki tingkat
kesukaran yang seimbang. Seimbang di sini berarti berkenaan dengan proporsi
penyebaran soal mudah, sedang, dan sukar. Proporsinya bisa 20% mudah, 60% sedang, dan 20% sukar, atau komposisi
yang lain (1:2:1). Soal yang mudah diperlukan untuk memberikan motivasi kerja,
sedangkan soal yang sukar diperlukan untuk sleksi.
2.3 Konstruksi
Instrumen
Suatu
instrumen dibangun atau dikembangkan atas dasar konstruksi tentntu. Konstruksi
tersebut biasanya dikembangkan atau diturunkan dari teori tertentu. Misalnya
kita akan mengembangkan alat ukur (instrumen) untuk mengukur tingkat
intelegensi seseorang. Langkah umum yang harus ditempuh adalah:
a. Menetapkan landasan teori atau konstruk dikembangkan
b. Memikirkan alat ukur model apa yang akan dikembangkan
c. Mengembangkan lay-out (kisi-kisi)
Dalam
menentukan atau mempertimbangkan model instrumen mana yang akan digunakan (tes
atau nontes) dan bagaimana cara pengumpulan data itu akan dilakukan, biasanya
diawali dengan mempertimbangkan:
- Untuk apa data itu diperlukan (untuk tujuan apa)
- Jenis dapa apa (data yang bagaimana) yang
diperlukan.
Setelah kedua hal itu terumuskan, secara umum
langkah atau prosedur yang harus ditempuh dalam mengembangkan instrumen
pengumpulan data (baik tes maupun nontes) adalah sebgai berikut:
1) Mengembangkan kisi-kisi pengembangan instrumen
2) Menentukan format instrumen yang akan digunakan
3) Mengembangkan konstruk instrumen
4) Menulis atau merumuskan item-item sesuai dengan
format yang dipilih
5) Mengkaji ulang rumusan item-item instrumen oleh staf
lain
6) Merevisi item-item instrumen berdasarkan hasil
judgment
7) Menggandakan instrumen
8) Ke lapangan (pengumpulan data)
2.4 Penskoran dan
Penafsiran
Penafsiran jenis instrumen asesmen memiliki cara
pengadministrasian yang berbeda, tergantung kepada format mana yang digunakan
setiap jenis instrumen memiliki cara yang berbeda baik dalam menskor maupun
dalam menafsirkannya.
a. Angket
Secara
umum, untuk angket dengan uraian terbuk, biasanya ditafsirkan dari kecenderungan
pandangan para responden tentang hal yang ditanyakan. Untuk angket dengan model
multiple choice (bukan skala), diolah dan ditafsirkan dari hasil tabulasi
frekuensi jawaban responden dengan menggunakan persen. Penafsirannya dilakukan
per item.
Untuk
angket yang menggunakan format dikotomis (YA atau TIDAK), selain dengan cara
seperti di atas, menggunakan pula diberi skor 1 atau 0. (catatan: perkaitan
arah peryataan, positif, atau negatif). Karena itu pada angket model ini kita
memungkinkan memperoleh skor. Cara penafsirannya bisa dari skor total atau per
aspek/sub aspek dari kontruk angket tersebut.
b. Skala
Unutk
memperoleh angket yang menggunakan format skala, maka cara mengolahnya adalah
menggunakan aturan skala. Misalnya untuk mengolah dan menafsirkan skala sikap
model likert, langkah yang harus ditempuh adalah:
1. Menghitung skor maksimum, yaitu jumlah peryataan
dikalikan dengan 5 (jika menggunakan nilai skala 1-5) atau dikalikan dengan 4
(jika menggunakan skala 0-4). Hal ini dilakukan baik untuk mengolah/menafsirkan
skor individual atau kelompok. Untuk menafsirkan secara kelompok kemudian
dihitung skor rata-ratanya.
2. Membagi skor maksimum yang diperoleh masing-masing
responden atau skor rata-rata dengan 5 atau 4 unutk mencari kedudukan sikap
seseorang atau sikap kelompok. Kemudian lihat kedudukan skor yang diperoleh
tersebut pada garis kontinum.
2.5
Pemanfaatan Hasil Asesmen Dalam Bimbingan dan
Konseling
Data
yang terkumpul akan berfungsi dan berguna peling sedikit untuk empat hal, yaitu
sebagai a) bahan penyususnan dan pengembangan program, b) bahan pemberian
bimbingan, c) bahan melakukan evaluasi, d) bahan diagnostik.
a. Sebagai Bahan Penyusunan Program
Suatu program dapat disusun berdasarkan data yang
ditemukan dari lapangan. Kegiatan pengumpulan data yang bertujuan unutk
merancang suatu program kegiatan sering disebut need assessment atau
preliminari survey.
b. Sebagai Bahan Pemberian Bimbingan
Data yang diperoleh akan menentukan jenis bimbingan
apa yang diperlukan. Misalnya kita menggunakan instrumen pengumpulan data alat
ungkap (AUM). Dari penggunaan alat tersebut akan terungkap data tentang 1)
jenis masalah yang dialami siswa, 2) intensi masakah yang dialami siswa, 3)
dengan siapa mereka selama ini menyampaikan mmasalahnya, dan 4) di tempat
pendidikan. Siapa yang diharapkan dapat memecahkan masalah mereka. Dari data
tersebut akan menentukan jenis bimbingan apa yang diperlukan (sosial, pribadi,
karier, atau lainnya), bimbingan individual atau kelompok dan sebagainya.
c. Sebagai Data Bahan Evaluasi
Hasil
pengumpulan data (himpunan data) dapa dijadikan bahan evaluasi. Hal ini
terutama bila data yang dikumpulkan mengakhiri suatu kegiatan atau program.
Misalnya data prestasi siswa. Data ini
akan menjadi titik balik bagi lembaga sejauhmana lembaga tersebut mampu
mencapai tujuannya. Kualifikasi apa yang dicapai oleh setiap siswa
(baik,cukup,kurang) bagaimana para guru pembimbing dan konseling telah
melakukan kegiatan bimbingan? Berapa kali mereka meninggalkan tugas? Dan
sebagainya.
d. Sebagi Bahan Diagnostik
Dengan
diperolehnya sejumlah data tentang siswa, khususnya siswa yang bermasalah, maka
guru bimbingan dan konseling dapat melakukan penelaahan tentang; apa masalah
yang dialami siswa? Dalam bidang apa masalah itu ada? Apa yang melatar
belakangi masalah itu? Alternaif apa yang diperlukan? Kepada siapa klien harus
dirujuk?
2.6
Etik Asesmen
Ada sejumlah aturan atau ketentuan tekait dengan
pengembangan, penggunaan, penafsiran dari setiap asesmen yang dikembangkan.
Terutama bila asesmen itu telah dibakukan.
Pelaksanaan pemberian asesmen harus memerhatikan
kondisi klien. Pemberian asesemen harus ditujukan untuk kepentingan siswa
karena itu pemberiannya harus pula memerhatikan kondisi siswa atau perkembangan
atau kecocokan instrumen dengan tujuan. Tester harus memperhatikan jumlah
klien, kapasitas ruangan, dan lain-lain, misalnya jumlah klien banyak,
menggunakan teknik wawancara, itu tidak tepat.
Cara mengomunikasikan hasil. Hasil asesmen harus
diberitahukan kepada klien. Artinya klien harus tahu atau memahami hasil
asesmen tersebut. Namun ada cara atau aturan kepada siapa saja hasil itu dapat
dikomunikasikan (orangtua, pimpinan, dan lain-lain).
Kerahasiaan hasil. Data hasil suatu asesmen akan
menyangkut diri seseorang karena karena itu sampai batas-batas tertentu harus
dirahasiakan oleh guru BK (sepanjang menyangkut pribadi). Tetapi manakal
seseorang berhadapan dengan hukum dan pihak tertentu memerlukan data tersebut,
maka menjadi kewajiban guru BK unutk memberikannya.
Sikap dalam memperlakukannya hasi asesmen bukanlah
segalanya tentang siswa. Karena selain setiap instrumen asesmen memiliki
keterbatasan, setiap instrumen asesmen juga memiliki kekhususan penggunaan.
Dengan demikian, guru BK jangan terpaku pada hasil rekomendasi suatu asesmen
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Fungsi utama dari instrumen asesmen adalah untuk
mengumpulkan data. Dalam berbagai keperluan ilmiah dan keperluan kependidikan,
yang mempunyai arti sebagai sejumlah keterangan atau informasi.
Dalam instrumen di sini maka yang paling utama dalam
pemberian layanan bimbingan dan konseling adalah data, di mana jika data
tersebut akurat maka proses bimbingan dan konseling akan berjalan efektif.
Data yang akurat hanya akan didapat jika dikumpulkan
dengan menggunakan alat instrumen yang tepat pula. Pada kondisi demikian, maka
kedudukan instrumen menjadi sangat penting. Disinihlah fungsi pemahaman dari
bimbingan diperlukan.