Minggu, 01 Maret 2015

Pengembangan Instrumen BK pribadi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Fungsi utama instrumen asesmen adalah untuk mengumpulkan data, dalam berbagai keperluan ilmiah data merupakan bentuk jamak dari datun, yang mempunyai arti sebagai sejumlah keterangan atau informasi tentang sesuatu benda atau nonbenda. Informasi atau keterangan tersebut dapat berupa besaran, ukurang, angka, atau dapat pula berupa penjelasan deskriptif, uraian atau kualifikasi tentang sesutau. Jadi data merupakan “potret” atau gambaran lengkap tentang sesuatu. Misalnya data intelegensi dapat di maknai sebagai ukuran, angka, deskripsi, atau kualifikasi tentang intelegensi seseorang. Demikian pula pengertian data pribadi berarti kempulan tentang angka–angka, ukuran, besaran, deskripsi dan atau kualifikasi tentang pribadi seseorang.
Pemberian data akan efektif jika didasarkan pada data yang akurat. Bride, dkk. (1989) menyatakan bahwa jika konselor ingin melakukan kegiatan bimbingan secara efektif atau melakukan apa saja dengan siswa (klien), maka dia harus mengetahui segala sesuatu yang ada pada siswa (klien) nya tersebut. Lebih banyak informasi yang di ketahui tentang klien, maka dia akan dapat bekerja dengan lebih baik dengan kliennya.
Data yang akurat tersebut hanya akan didapat jika dikumpulkan dengan menggunakan alat instrumen yang tepat pula. Kadang-kadang guru Bimbingan dan Konseling punya data yang banyak tentang seseorang, tetapi data tersebut dirasa tidak cukup, karna tidak sesuai dengan kebutuhan pemecahan masalahnya. Pada kondisi demikian, maka kedudukan instrumen menjadi sangat penting. Di sinilah fungsi pemahaman dari bimbingan perilaku.
Kedudukan data dalam bimbingan sanat sentral. Untuk itu guru Bimbingan dan Konseling perlu memahami betul data apa yang diperlukan untuk memecahkan sesuatu masalah atau melakukan suatu kegiatan bimbingan. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana data tersebut dapat dikumpulkan. Uraian berikut berupaya membantu guru Bimbingan dan Konseling untuk memahami kedua hal tersebut.




1.2  Rumusan Masalah

1.      Apa saja ragam pendekatan dan teknik asesmen
2.      Apa Karakteristik mutu instrumen
3.      Apa kontuksi instrumen
4.      Bagaimana cara menafsirkan instrumen
5.      Bagaimana cara memanfaatkan hasil asesmen dalam Bimbingan dan konseling
6.      Bagaimana cara melaksanakan etika asesmen

1.3  Tujuan

1.      Menjelaskan ragam pendekatan dan teknik asesmen
2.      Menjelaskan karakteristik mutu instrumen
3.      Menjelaskan kontuksi instrumen
4.      Menjelaskan bagaimana cara menafsirkan instrumen
5.      Menjelaskan bagaimana cara memanfaatkan hasil asesmen dalam bimbingan dan konseling
6.      Menjelaskan bagaimana cara menlaksanakan etika asesmen

1.4  Manfaat
Dengan dibuatnya makalah ini semoga dapat memberikan pemahaman tentang pengembangan instrumen Bimbingan dan Konseling Pribadi, dan menambah wawasan dan pengetahuan dimasa mendatang.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1          Pengertian Ragam Pendekatan dan Teknik Asesmen
Dalam bimbingan konseling fungsi utama asesmen terkait dengan fungsi pemahaman individu (siswa). Instrumen asesmen digunakan untuk mengumpulkan berbagai informasi (data) tentang siswa.
Data tentang siswa dapat di bedakan menjadi data psikologis dan data non psikologis. Data psikologis adalah data yang terkait dengan aspek-aspek psikologis dari siswa ; seperti data tentang intelegensi (kecerdasan), data-data tentang aspek kepribadian. Sedangkan data Non-psikologis adalah data yang terkait prestasi yang diperoleh, data tentang diri (data pribadi) dan data tentang lingkungan.
     Untuk mengungkapkan atau mengumpulkan kedua jenis data tersebut dapat dilakukan dengan 2 pendekatan besar, yaitu pendekatan tes dan pendekatan non tes.
     Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, atau pertanyaan-pertanyaan yang harus di pilih. Dalam setiap pertanyaan, pernyataan, atau tugas yang diberikan terdapat jawaban atau alternatif yang di anggap benar. Dengan demikian, maka setiap tes akan menuntut respon atau jawaban yang dites yang dapat disimpulkan sebagai alat trait dari subjek yang sedang di cari informasinya. Dari uraian ini tersirat bahwa tes berfungsi sebagai alat (instrumens) ataupun sebagai cara pengungkapan informasi datau pengumpulan data tentang siswa.
     Selain dengan cara tes, alat atau pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara non-tes yang di lakukan dengan bentuk wawancara, observasi, angket dan sejenisnya. Perbedaan utama antara tes dan nontes terletak pada 3 hal. Pertama bahwa pada tes ada jawaban benar salah, sedangkan pada jenis non tes jawaban benar dan salah sangat kondisional. Kedua, adalah hasil pada nontes lebih besifat kualitatif, sedangkan tes lebih kuantitatif. Ketiga, pelaksanaan tes adalah orang yang profesional, sedangkan non tes tidak selamnya orang profesional.
     Dilihat dari bentuknya, secara umum data yang di peroleh dapat di bedakan menjadi 2 jenis data, yaitu
1.    Data kuantitatif, data kuantitatif diperoleh dari hasil pengukuran yang wujudnya berupa angka-angka atau kualifikasi yang di angkakan
2.    Data kualitatif, data kualitatif diperoleh dari hasil penilaian yang berupa kualifikasi, kata-kata atau kalimat ; seperti cerdas, baik, buruk, banyak, sedikit, dan seterusnya.
Data kuantitatif dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok besar, yaitu data diskrit dan data kontinum. Data diskrit adalah data yang diperolih dari hasil menghitung atau membilang. Data diskrit sering juga disebut data nominal. Data kontinum secara hiererki dapat dikelompokan menjadi data ordinal, data interval, dan data rasio, keempat jenis data ini (nominal, ordinal, interval, dan rasio) sifatnya berjenjang (berskalah). Data nominal merupakan data yang paling rendah.
Berikut ini diuraikan tentang jenis data tersebut
a.    Skala Nominal, yaitu skalah yang bersifat katagorikal. Dengan skala nominal ini kita hanya dapat memahami apakah seseorang itu berada dalam kategori mana (jenis kelamin; pria atau wanita, hidhu, budha atau lainnya)
b.    Skala Ordinal, yaitu angka yang menunjukan adanya urutan, tanpa mempersoalkan jarak antarurutan tersebut. Misalnya angka yang menunjukan urutan rangking atau perangkat mahasiswa dalam suatu mata kuliah
c.    Skala Interval, yaitu angka yang selain memiliki dua ciri di atas (menunjukan klasifikasi dan kedudukan seseorang dalam kelompok) juga menunjukan adanya jarak yang sama dari angka yang satu ke angka yang lain (equality of interval) jika berada dalam urutan
d.   Skala Rasio, yaitu angka atau data yang selain memiliki tiga sifat data di atas (menunjukan klasifikasi, kedudukan dalam suatu kelompok, dan memiliki jarak interval yang sama) juga memiliki nilai 0 (nol) mutlak
Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat / perhatian, yang disusun dalam bentuk peryataan untuk dinilai oleh responden di mana hasilnya berbentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang digunakan.
Ada dua jenis skala yang sering digunakan untuk mengakses siswa, yaitu skala sikap dan skala penilaian.
a.    Skala sikap
Skala sikap pd hakikatnya adalah kecenderungan seseorang berperilaku. Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap stimulus yang datang pada dirinya. Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung, menolak atau netral
Ada 3 komponen sikap yakni kognisi (berkenaan dengan pengetahuan tentang objek), afeksi (berkaitan dengan perasaan terhadap objek), dan konasi (berkaitan dengan kecenderungan berperilaku terhadap objek itu).
b.    Skala penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku siswa melalui peryataan perilaku pada suatu titik kontinum atau suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori itu diberi rentangan nilai dari yang tinggi sampai yang rendah. Rentangan ini bisa berupa huruf abjad (A, B, C, D) atau angka (1, 2, 3, 4). Hal yang harus diperhatikan adalah kriteria skala nila, yakni penjelasan oprasional untuk setiap alternatif jawaban.
Skala penilaian lebih tepat digunakan untuk mengukur suatu proses, misalnya proses belajar pada siswa, atau hasil belajar yang berbentuk prilaku, seperti hubungan sosial di antara siswa atau cara-cara memecahkan masalah.


2.2          karakteristik mutu instrumen
Dilihat dari mutunya, instrumen asesmen dapat dibedakan menjadi dua kelompok yang sering digunakan, yaitu instrumen standar (standardized test, standardized instrument) dan instrumen tidak standar. Suatu instrumen dikatakan standardized bila instrumen tersebut telah diuji berbagai aspek kebaikannya, misalnya releabilitas, validitas, dan daya pembeda dari item-itemnya. Sedangkan instrumen yang tidak standar (tidak dibakukan) aspek-aspek tersebut tidak diketahui secara pasti.
Instrumen yang baku biasanya dilengkapi perangkat instrumen, yang disebut dengan nama “MANUAL”. Dalam manual biasanya tercantum:
a.    penjelasan tentang aspek-aspek yang diungkap
b.    kegunaan instrumen
c.    cara pengadministrasian (cara pelaksanaan, pemeriksaan, sampai sekoring)
d.   norma yang digunakan
e.    penjelasan tingkat instrumen dan cara pembakuannya
Berikut ini akan diuraikan secara singkat mengenai konsep validitas, releabilitas, tngkat kesukaran, dan daya pembeda soal.
a.    Validasi
Validasi menunjukan tingkat ketepatan suatu alat instrumen (tes maupun non-tes) dalam mengatur aspek yang hendak diukur, atau mengungkap data yang hendak diungkap. Setiap alat ukur/instrumen harus hanya mengukur satu dimensi atau aspek saja. Suatu tes hasil belajar dikatakan valid kalau hanya megungkap hasil belajar tertentu saja.
b.    Reliabilitas
Reliabilitas tes menunjukan tingkat keajegan suatu tes, yaitu sejauhmana tes tersebut dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg/konsisten. Kecermatan hasil pengukuran ditentukan oleh banyaknya informasi yang dihasilkan dan sangat berkaitan dengan satuan ukuran dan jarak rentang dari skala yang digunakan.

c.    Daya Pembeda
Soal-soal dari suatu tes yang baik akan mampu membedakan antara testi yang benar-benar mampu dengan testi yang kurang mampu, antara testi yang benar-benar belajar dengan testi yang tidak belajar. Secara empirik hal ini akan ditunjukkan dengan adanya oerbedaan skor/hasil yang diperoleh oleh orang termasuk kelompok unggul dengan sekor yang diperoleh oleh kelompok asor. Jadi orang-orang dari kelompok unggul akan lebih banyak benar dibandingkan dengan orang dari kelompok asor.

d.   Tingkat Kesukaran
Sial-soal suatu tes yang baik akan memiliki tingkat kesukaran yang seimbang. Seimbang di sini berarti berkenaan dengan proporsi penyebaran soal mudah, sedang, dan sukar. Proporsinya bisa 20%  mudah, 60% sedang, dan 20% sukar, atau komposisi yang lain (1:2:1). Soal yang mudah diperlukan untuk memberikan motivasi kerja, sedangkan soal yang sukar diperlukan untuk sleksi.


2.3  Konstruksi Instrumen
Suatu instrumen dibangun atau dikembangkan atas dasar konstruksi tentntu. Konstruksi tersebut biasanya dikembangkan atau diturunkan dari teori tertentu. Misalnya kita akan mengembangkan alat ukur (instrumen) untuk mengukur tingkat intelegensi seseorang. Langkah umum yang harus ditempuh adalah:
a.    Menetapkan landasan teori atau konstruk dikembangkan
b.    Memikirkan alat ukur model apa yang akan dikembangkan
c.    Mengembangkan lay-out (kisi-kisi)
Dalam menentukan atau mempertimbangkan model instrumen mana yang akan digunakan (tes atau nontes) dan bagaimana cara pengumpulan data itu akan dilakukan, biasanya diawali dengan mempertimbangkan:
-       Untuk apa data itu diperlukan (untuk tujuan apa)
-       Jenis dapa apa (data yang bagaimana) yang diperlukan.
Setelah kedua hal itu terumuskan, secara umum langkah atau prosedur yang harus ditempuh dalam mengembangkan instrumen pengumpulan data (baik tes maupun nontes) adalah sebgai berikut:
1)   Mengembangkan kisi-kisi pengembangan instrumen
2)   Menentukan format instrumen yang akan digunakan
3)   Mengembangkan konstruk instrumen
4)   Menulis atau merumuskan item-item sesuai dengan format yang dipilih
5)   Mengkaji ulang rumusan item-item instrumen oleh staf lain
6)   Merevisi item-item instrumen berdasarkan hasil judgment
7)   Menggandakan instrumen
8)   Ke lapangan (pengumpulan data)




2.4  Penskoran dan Penafsiran

Penafsiran jenis instrumen asesmen memiliki cara pengadministrasian yang berbeda, tergantung kepada format mana yang digunakan setiap jenis instrumen memiliki cara yang berbeda baik dalam menskor maupun dalam menafsirkannya.

a.    Angket
Secara umum, untuk angket dengan uraian terbuk, biasanya ditafsirkan dari kecenderungan pandangan para responden tentang hal yang ditanyakan. Untuk angket dengan model multiple choice (bukan skala), diolah dan ditafsirkan dari hasil tabulasi frekuensi jawaban responden dengan menggunakan persen. Penafsirannya dilakukan per item.
Untuk angket yang menggunakan format dikotomis (YA atau TIDAK), selain dengan cara seperti di atas, menggunakan pula diberi skor 1 atau 0. (catatan: perkaitan arah peryataan, positif, atau negatif). Karena itu pada angket model ini kita memungkinkan memperoleh skor. Cara penafsirannya bisa dari skor total atau per aspek/sub aspek dari kontruk angket tersebut.
b.    Skala
Unutk memperoleh angket yang menggunakan format skala, maka cara mengolahnya adalah menggunakan aturan skala. Misalnya untuk mengolah dan menafsirkan skala sikap model likert, langkah yang harus ditempuh adalah:
1.    Menghitung skor maksimum, yaitu jumlah peryataan dikalikan dengan 5 (jika menggunakan nilai skala 1-5) atau dikalikan dengan 4 (jika menggunakan skala 0-4). Hal ini dilakukan baik untuk mengolah/menafsirkan skor individual atau kelompok. Untuk menafsirkan secara kelompok kemudian dihitung skor rata-ratanya.
2.    Membagi skor maksimum yang diperoleh masing-masing responden atau skor rata-rata dengan 5 atau 4 unutk mencari kedudukan sikap seseorang atau sikap kelompok. Kemudian lihat kedudukan skor yang diperoleh tersebut pada garis kontinum.

2.5     Pemanfaatan Hasil Asesmen Dalam Bimbingan dan Konseling

Data yang terkumpul akan berfungsi dan berguna peling sedikit untuk empat hal, yaitu sebagai a) bahan penyususnan dan pengembangan program, b) bahan pemberian bimbingan, c) bahan melakukan evaluasi, d) bahan diagnostik.
a.    Sebagai Bahan Penyusunan Program
Suatu program dapat disusun berdasarkan data yang ditemukan dari lapangan. Kegiatan pengumpulan data yang bertujuan unutk merancang suatu program kegiatan sering disebut need assessment atau preliminari survey.

b.    Sebagai Bahan Pemberian Bimbingan
Data yang diperoleh akan menentukan jenis bimbingan apa yang diperlukan. Misalnya kita menggunakan instrumen pengumpulan data alat ungkap (AUM). Dari penggunaan alat tersebut akan terungkap data tentang 1) jenis masalah yang dialami siswa, 2) intensi masakah yang dialami siswa, 3) dengan siapa mereka selama ini menyampaikan mmasalahnya, dan 4) di tempat pendidikan. Siapa yang diharapkan dapat memecahkan masalah mereka. Dari data tersebut akan menentukan jenis bimbingan apa yang diperlukan (sosial, pribadi, karier, atau lainnya), bimbingan individual atau kelompok dan sebagainya.

c.    Sebagai Data Bahan Evaluasi
Hasil pengumpulan data (himpunan data) dapa dijadikan bahan evaluasi. Hal ini terutama bila data yang dikumpulkan mengakhiri suatu kegiatan atau program. Misalnya data prestasi siswa.  Data ini akan menjadi titik balik bagi lembaga sejauhmana lembaga tersebut mampu mencapai tujuannya. Kualifikasi apa yang dicapai oleh setiap siswa (baik,cukup,kurang) bagaimana para guru pembimbing dan konseling telah melakukan kegiatan bimbingan? Berapa kali mereka meninggalkan tugas? Dan sebagainya.

d.   Sebagi Bahan Diagnostik
Dengan diperolehnya sejumlah data tentang siswa, khususnya siswa yang bermasalah, maka guru bimbingan dan konseling dapat melakukan penelaahan tentang; apa masalah yang dialami siswa? Dalam bidang apa masalah itu ada? Apa yang melatar belakangi masalah itu? Alternaif apa yang diperlukan? Kepada siapa klien harus dirujuk?

2.6     Etik Asesmen

Ada sejumlah aturan atau ketentuan tekait dengan pengembangan, penggunaan, penafsiran dari setiap asesmen yang dikembangkan. Terutama bila asesmen itu telah dibakukan.
Pelaksanaan pemberian asesmen harus memerhatikan kondisi klien. Pemberian asesemen harus ditujukan untuk kepentingan siswa karena itu pemberiannya harus pula memerhatikan kondisi siswa atau perkembangan atau kecocokan instrumen dengan tujuan. Tester harus memperhatikan jumlah klien, kapasitas ruangan, dan lain-lain, misalnya jumlah klien banyak, menggunakan teknik wawancara, itu tidak tepat.
Cara mengomunikasikan hasil. Hasil asesmen harus diberitahukan kepada klien. Artinya klien harus tahu atau memahami hasil asesmen tersebut. Namun ada cara atau aturan kepada siapa saja hasil itu dapat dikomunikasikan (orangtua, pimpinan, dan lain-lain).
Kerahasiaan hasil. Data hasil suatu asesmen akan menyangkut diri seseorang karena karena itu sampai batas-batas tertentu harus dirahasiakan oleh guru BK (sepanjang menyangkut pribadi). Tetapi manakal seseorang berhadapan dengan hukum dan pihak tertentu memerlukan data tersebut, maka menjadi kewajiban guru BK unutk memberikannya.
Sikap dalam memperlakukannya hasi asesmen bukanlah segalanya tentang siswa. Karena selain setiap instrumen asesmen memiliki keterbatasan, setiap instrumen asesmen juga memiliki kekhususan penggunaan. Dengan demikian, guru BK jangan terpaku pada hasil rekomendasi suatu asesmen



BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Fungsi utama dari instrumen asesmen adalah untuk mengumpulkan data. Dalam berbagai keperluan ilmiah dan keperluan kependidikan, yang mempunyai arti sebagai sejumlah keterangan atau informasi.
Dalam instrumen di sini maka yang paling utama dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling adalah data, di mana jika data tersebut akurat maka proses bimbingan dan konseling akan berjalan efektif.

Data yang akurat hanya akan didapat jika dikumpulkan dengan menggunakan alat instrumen yang tepat pula. Pada kondisi demikian, maka kedudukan instrumen menjadi sangat penting. Disinihlah fungsi pemahaman dari bimbingan diperlukan.